Tampilkan postingan dengan label kediri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kediri. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 April 2009

Situs Kuno Ditemukan di Tengah Hutan Khawatir Hilang, Diurug Lagi Oleh Perhutani

[ Kamis, 16 April 2009 ]
Situs Kuno Ditemukan di Tengah Hutan
Khawatir Hilang, Diurug Lagi Oleh Perhutani

KEDIRI - Sebuah situs kuno yang diperkirakan berasal dari zaman kerajaan kembali ditemukan. Lokasinya di kawasan hutan sengon di Dusun Bodag, Desa Wonorejo, Kecamatan Puncu. Kedalamannya sekitar satu meter dari permukaan tanah. Namun, oleh petugas Perhutani diuruk kembali karena dikhawatirkan hilang.

Menurut sejumlah warga, situs itu pertama kali ditemukan oleh Slamet, 70, warga Desa Karangdinoyo, Kecamatan Kepung, Jumat (10/4) sore lalu. Tepatnya sekitar pukul 17.00. Saat itu, dia sedang mencari dongklak kayu. "Saat menggali, orangnya melihat ada batu-batu," cerita Musri, 70, tetangga Slamet, kepada Radar Kediri kemarin.

Situs yang ditemukan antara lain berupa batuan lempeng atau biasa disebut umpak. Dimensinya sekitar satu kali setengah meter dengan ketebalan sekitar lima centimeter. "Ada tiga batu-batu yang lebar," terang penggembala kambing ini.

Selain itu ada juga puluhan batu-bata merah berukuran raksasa. Serta batu yang tengahnya ada lubang berbentuk kotak. "Batu batanya tertata rapi. Seperti pondasi," akunya.

Keesokan paginya, berita penemuan situs di kawasan Resor Pemangku Hutan (RPH) Jatirejo, Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Kediri itu langsung tersebar ke warga sekitar. Banyak warga yang melihat dan ada yang berusaha menggalinya. "Ada satu batu yang sempat di angkat warga," cerita Musri.

Sampai akhirnya sekitar pukul 11.00 berita penemuan itu sampai ke pihak Perhutani setempat. "Kami langsung melakukan pengecekan di lokasi dan ternyata benar ada semacam peninggalan kuno," sebut Asisten Perhutani (Aper) KPH Kediri Engkap Kapriadi.

Menurutnya situs tersebut berada di petak 19 RPH Jatirejo. Hutan tempat situs itu ditemukan sendiri baru ditebang seminggu sebelum penemuan. Makanya banyak warga yang mencari dongklak kayu di kawasan itu.

Setelah memastikan adanya penemuan itu, pihak Perhutani langsung mengubungi muspikia setempat. Lalu situs itu langsung diurug kembali. "Batu yang awalnya sudah dikeluarkan saya minta dimasukkan kembali dan diurug lagi," lanjutnya.

Pengurukan tersebut, kata Engkap, ditujukan untuk melindungi keberadaan situs itu. "Supaya tidak hilang, rusak dan sebagainya kalau digali warga," kata Engkap di kantornya kemarin. Apalagi situs itu terletak di kawasan hutan milik pemerintah. "Kami juga tidak memiliki kewenangan untuk melakukan penggalian," jelasnya.

Sebelum mengurugnya kembali, pihak Perhutani sempat mengambil beberapa doto penemuan itu. Dari gambar yang ada tampak ada batu bata merah yang berukir, batu dengan lubang di tengah atau yang biasa disebut dengan lingga serta batu-batu berbentuk balok. "Kami juga memasang patok dan rafia untuk menandai tempatnya," kata Engkap.

Hal itu katanya agar jika ada pihak dari Dinas Pariwisata atau BP3 Trowulan yang ingin melakukan penggalian lagi dan melakukan penelitian mudah mencarinya. "Penemuan ini sudah kami laporkan ke muspika. Kalau mau ditindaklanjuti pihak berwenang silakan. Yang jelas sekarang kami amankan dulu," kata mantan Asper KPH Nganjuk itu. (jie) jawapos.com



Flu Burung Serang Kandat Puluhan Ekor Ayam Warga Mati Mendadak

[ Kamis, 16 April 2009 ]
Flu Burung Serang Kandat
Puluhan Ekor Ayam Warga Mati Mendadak

KEDIRI - Virus flu burung ditengarai menyerang Desa Purworejo, Kandat. Puluhan ekor ayam kampung milik warga mati mendadak secara bergantian. Menurut Toyib Sarip, salah satu warga, setelah dicek menggunakan rapid test oleh dokter dan tim dari Dinas Kehewanan Kabupaten Kediri, ayam-ayam itu dinyatakan positif terserang.

Toyib mengaku pertama kali mengetahui ayam-ayamnya mati pada Selasa (7/4) lalu. Saat itu, tujuh dari sekitar 50 ekor ayam kampung miliknya yang biasa tidur di pohon tiba-tiba terkapar di tanah. Keesokan harinya, menyusul delapan ekor yang lain. "Total ada 15 ekor ayam saya yang mati," ujarnya kepada Radar Kediri kemarin.

Karena tubuhnya membiru, Toyib khawatir terserang virus flu burung. Apalagi, hal serupa dialami belasan ayam milik tetangganya. Makanya, dia langsung menguburkan unggasnya tersebut.

Dia lantas melaporkan kejadian itu ke puskesmas dan kantor desa. Siangnya, petugas dari Dinas Kesehatan dan Dinas Kehewanan Kabupaten Kediri datang. "Setelah diketahui ayam saya positif flu burung, saya dan keluarga langsung diperiksa dokter. Alhamdulillah sehat semua," lanjut Toyib.

Petugas juga menyemprotkan desinfektan di rumah Toyib dan sekitarnya. Namun, tampaknya, serangan virus belum berhenti. Dua hari lalu, tujuh ekor ayam milik Sujak yang tinggal persis di sebelah barat rumah Toyib juga mati mendadak. Menyusul esoknya enam ekor. "Semua langsung kami bakar," kata Nurul, 24, anak Sujak.

Petugas dari dinas kehewanan pun kembali datang dan menyemprotkan cairan desinfektan. Akan tetapi, lagi-lagi, hal itu belum bisa mengentikan penyebaran virus. Kemarin, saat Nurul hendak menunjukkan kandang ayamnya kepada Radar Kediri, tiba-tiba satu ekor ayamnya mati lagi. "Lha ini mati juga. Berarti ayam saya tinggal dua yang kecil-kecil," tuturnya sambil menunjuk dua ekor ayam yang baru berusia sekitar satu bulan.

Dikonfirmasi wartawan koran ini, petugas Pengelola Pengamatan Penyakit dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri Suyanto membantah bahwa serangan virus di Purworejo, Kandat sudah positif flu burung. Menurut dia, dari pemeriksaan terhadap bangkai ayam, yang menyerang baru virus H5.

Sedangkan untuk memastikan apakah juga terinfeksi virus N1 atau flu burung, harus menunggu hasil pemeriksaan laboratorium Balai Veteriner di Jogja. "Sampai sekarang belum keluar," katanya, kemarin.

Lalu, apa tindakan dinkes jika nanti benar-benar positif H5N1? Suyanto menjawab, sesuai standar penanganan virus flu burung, semua unggas dalam radius 300 meter dari lokasi ditemukannya kasus harus dimusnahkan.

Saat ini, dinkes juga sedang mengawasi masyarakat di sekitar rumah Toyib. Dalam jangka waktu sepuluh hari, mereka akan memantau apakah ada warga yang sakit akibat terserang virus flu burung atau tidak. "Sejauh ini belum ditemukan," ungkap Suyanto. (ut/hid)
jawapos.com